Pindah Rumah

bintangbumoe.com

Advertisements

Puisi Adalah Rantaian Kata yang Memikat Tapi Tak Mengikat Kita, Adalah Untaian Perasaan yang Kita Temukan Setelah Menyelam ke Kedalaman Pemahaman Diri

(Sebenarnya)
puisi hanyalah basa-basi
demi menyampaikan kerinduanku pada matamu.

(STAR 991. Banda Aceh, 15022017, 01.23)

Selalu Ada

selalu ada tempat buat kata-kata yang tersesat di hatiku, selalu ada sajak yang kubuat untukmu
meskipun kau sebenarnya tiada; tidak bersuara dalam detak jantungku.

selalu ada kutukan dalam kerinduan
sehingga kantuk meninggalkan badan
dan melupakan perasaan yang ingin bermimpi semalaman demi menyembuhkan pikiran seharian
yang terluka karena cinta.

selalu ada ruang untuk menyimpan sebuah nama dan jutaan kenangan bersamanya
di hati yang ingat pada suatu kata sifat ketika kita disengat kerinduan
yang menyakitkan.

selalu ada tempat dan ruang sebagai kutukan waktu
tapi aku akan selalu ada bersamamu
selalu ada dengan kamu
di mana pun itu!

(STAR 990. Banda Aceh, 17012017, 01.45)

Awalnya Getir di Pangkal Takdir

:Nayla

Sepi di ujung kata
tak mengurungkan keinginan untuk menuliskan sesuatu, sesuatu yang rindu kita.

Aku yang sudah mahir bercengkrama dengan takdir kata
masih bersedih karena tidak lelah membaca guratan kerinduan pada wajah rembulan
yang kau sembunyikan
dari lautan mataku yang berombak biru, yang bergejolak rindu.

Sepi di ujung kata, sunyi di penghujung kita.
Dan akulah si kelasi yang menangis
yang menangis karena seorang gadis
hanya seorang gadis yang manis;
N-a-y-l-a.

(STAR 989. Banda Aceh, 09012017, 23.15)

Tiada Batasnya Antara Rindu Perasaan dan Sedu Sedan

Seperti biasanya
Langit terbebas dari himpitan perasaan meskipun matahari terjepit di antara dua bukit yang berjalan itu.

Masih biasakah kabarmu? Semoga mata kamu terbiasa menyapa mata kata
yang suka bertanya perihal kesedihan yang gagal disembunyikan oleh senyuman.

Manisnya senyumanmu
mengiris perasaan yang dibesarkan waktu,
Selalu ada tempat buat yang berduka, di kelopak mata kata.
Selalu ada obat buat yang terluka, di sajak cinta kita.

😉

(STAR 988. Banda Aceh, 29122016, 23.48)

Biar Jadi Rahasia Antara Kita dan Kata Saja

:my future princess

Sayangku, aku punya kata-kata yang ingin berseru rindu
Maukah kau membacanya dari jauh dengan merdu?

“Ada jarak yang tak tertempuh sekarang, tapi aku akan bergerak sepenuhnya bersama waktu, dan kau tak perlu menebak lagi ke mana arah langkah kakiku
Sudah pasti menuju hatimu.

Diamnya suara merekam kebisuan kata yang belum menemukan kita,
jangan risau, kau adalah segala-galanya,
Aku hanya ingin duduk di beranda bersamamu, bercanda pada suatu senja, meluapkan masa muda kita
sehingga warna langit sempurna jingga.”

(STAR 987. Banda Aceh, 29122016, 19.18)

Dan Mata Seorang Penyair Telah Mengutukmu Menjadi Putri Tidur

Seperti langit sore ini yang bergerimis
Akan selalu ada yang menangis
demi menumpahkan cairan yang selalu magis; curahan perasaan yang terlalu mistis
karena cinta yang tertulis manis
dari takdir bibir lelaki
telah menjadi dongeng sebelum tidurnya para gadis pemimpi………

(STAR 986. Banda Aceh, 24122016, 22.13)

7 Desember 2016

Tuhan menegur kita yang kasar dengan bertutur sopan
dengan bahasa yang terkadang membentur lempengan bumi
yang membuatnya bergetar ketakutan
karena menahan beban dosa-dosa kita…..

Tuhan memberikan peringatan dengan goncangan yang meruntuhkan kesombongan kita
seperti bangunan bertingkat tinggi yang runtuh cepat menyentuh tanah, merendahkan diri……

(STAR 985. Banda Aceh, 23122016, 10.17)

Matamu Telah Menyihirku Menjadi Penyair

:my future princess

Masih adakah yang lebih bening dari tatapan mata yang memantulkan cinta?

Masih adakah yang lebih hening dari kecupan kata pada bibir penyair?

(STAR 984. Banda Aceh, 22122016, 23.49)

Jangan Risau Kalau Kau Belum Bisa Menyelam Kedalaman Kata-Kata yang Berbicara Tentang Cinta

Sepanjang jalan yang menanjak dan menikung ke puncak Simarjarunjung
Pepohonan yang hijau memulihkan mata yang letih dengan pemandangan kota
Dan perasaan yang bersedih sendirian telah tercebur ke dalam biru danau,
sudah melebur di kedalaman risau…..

Toba, seberapa dalam duka yang kau pendam?
Seberapa lama luka yang terbenam dalam mata danau?

(STAR 983. Medan, 16122016, 18.47)

Telaruga

Antara Binjai dan Wisma Garuda
aku ingin berteduh dari kesendirian;
jenuh yang membosankan,
penat yang melelahkan.

Dinginnya air sungai di Telaruga
menyeka duka yang mengalir tenang dalam air mata kehidupan, sejuknya angin yang membiarkan waktu berjalan dengan hembusan pelannya….

Pikiran ini ramai dengan berbagai andai
Yang masing berulangkali ingin pergi, yang masih barangkali ingin kembali
m e n c i n t a i m u sekali lagi.

(STAR 982. Medan, 12122016, 20.51)

Mari Mengenang yang Hilang Tanpa Berlinang Air Mata, Kita Tidak Mau Kenangan Itu Basah Atau Dihanyutkan Jauh Ke Dalam Hulu Perasaan

🙂

Hei, apa kabar? Ini malam yang menyenangkan, bukan? Wajah langit dicerahkan rembulan. Seperti wajahmu yang tersenyum; menyabit rinduku.

Sudah lama aku tidak membiarkan kata-kata menuliskan kerinduanmu padaku. Kau tahu, aku pemalu. Tidak berani berkata-kata pada kerling matamu. Tidak berani bersuara pada heningmu. Tapi aku juga rindu.

Apa kabarmu? Lagi-lagi aku bertanya pada semesta. Yang menyimpan rahasia perasaanmu. Semoga kamu baik-baik saja. Di mana saja. Bersama dia. Dan aku akan menjaga kebaikan hatimu. Oh iya, jangan terluka karena cinta, ya!

Cinta? Hahaha. Lagi-lagi aku menuliskan kata yang serupa. Tidak sengaja. Seperti hari itu; ketika kata-kata keluar dan berlarian ke depanmu. Ingin memeluk kesendirianmu. Ingin berbisik sesuatu yang sudah kau tahu. Seseorang mencintaimu sejak dulu.

Ah. Lupakan saja itu. Kita masih kekanak-kanakan waktu itu. Sekarang cintamu sudah berbeda, telah dewasa bersamanya.

Lihatlah! Bintang-bintang yang bersinar terang. Binar kedua matamu. Dari kejauhan menerangi malamku………..

🙂

Audio

Hanya Dengan Sajak Aku Bisa Kelihatan Bijak Menuliskan Kerinduan

Pagi tak sering berkata apa-apa pada kita yang tak saling menyapa
tak ingin bertanya kenapa matahari pergi meninggi
seperti kita yang berada pada ketinggian hati

Sekali-kali kita berbicara dalam kerinduan masing-masing, berbahasa rapi dengan basa-basi kehidupan yang semakin terasing dari percakapan dan perasaan

Terkadang kita mengenang; ada yang hilang dari kata yang pernah menuliskan kisah persahabatan,

ada yang hilang dari kenangan; k-i-t-a?

(STAR 981. Banda Aceh, 25112016, 21.47)

Selamat Hari Guru

Pak Guru dan aku sudah tiba di sebuah sekolah
Setelah lelah mencari-cari jalan, mencuri-curi pengalaman sepanjang jalan yang entah batasnya.

Pak guru berjalan bersamaku, menyapa kelas yang kosong, eh ternyata kami salah masuk pintu, ini ruang pikiranku!

Pak guru berjalan lagi dengan santai menyapa pepohonan yang berlarian; yang nampaknya takut pada mata kapak di kepala pak guru,
Padahal pak guru menyapa dengan senyuman dengan beberapa kata yang tidak pernah tajam, malah sangat ramah; kata-kata hangat dan sangat indah

Pak guru melangkah ringan, tidak tumpah beban dari pundaknya, pak guru tidak menekan tanah sekuat-kuatnya, pak guru tahu beratnya perjalanan.

Pak guru dan aku masuk ke dalam ruangan yang jelas namanya; k-e-l-a-s nomor sekian yang dipenuhi muka-muka memelas yang memandang wajah ikhlas pak guru yang tahu makna tatapan itu dan membalas dengan kabar menyenangkan; “hari ini tidak ada ulangan harian, tapi mari mengulang pelajaran yang lalu agar kalian tahu; guru selalu berjalan bersama kalian di jalan kehidupan”

(STAR 980. Banda Aceh, 25112016, 21.23)

Rembulan Tenggelam di Wajahmu

Fitri,
Seperti langit biru dan wajahmu
Meneduhkan hari-hari, menyentuh hati yang terkadang rumit aku
pahami, yang sulit aku selami
sendiri.

Ray,
Seperti sinar matahari dan binar matamu
Menerangi penglihatan pagi, menghalangi kebutaan hati
selama ini.

Dan rembulan tenggelam di wajahmu
Menyisakan keremangan cerita di luar kamarku,
Mata ingin terpejam tetapi tatapannya berhenti pada halaman dua ratus enam puluh delapan, pada lelaki setengah baya yang sedang tertawa…….

Aaaaaaarggggghhhhhhh @%&#*^%$#!@^#&%$#@

(STAR 979. Banda Aceh, 25112016, 00.22)

Bunga Cinta yang Merekah Indah dari Sekolah Rendah

:Taufan & Fara

Dan telah merekah indah bunga-bunga kata
Dari taman sekolah rendah yang mengajarkan ketulusan dan kesabaran pada cinta yang dulu kekanak-kanakan;
cinta yang sekarang matang dalam pikiran dan perasaan.

Kita terpikat melihat merahnya bunga
Yang bermekaran di wajah kalian; cerahnya warna kebahagiaan.

Kita melihat cinta yang merekat erat pada tangan kalian
Mengikat kuat takdir yang hadir sejak dulu
sejak terikat rahasia pertemuan yang memikat,

Semoga bunga-bunga cinta bersemi abadi dalam kenangan dan kehidupan kalian………

(STAR 978. Banda Aceh, 06112016, 22.00)

Seperti Puisi

Aku mencintai kamu seperti ini
Seperti puisi yang kata-katanya agak sunyi, tidak menampakkan diri.

Aku mencintai kamu seperti ini
Seperti puisi yang katanya setengah jadi, setelah berlari dari maknanya sendiri.

Aku mencintai kamu seperti ini
Seperti puisi yang pagi; yang menyinarkan matahari demi menerangi mata hati.

(STAR 977. Banda Aceh, 01112016, 12.47)

Ketika Sang Penguasa di Negeri Itu Masih Mabuk dengan Kekuasaan, Cintaku yang Sekarang Masih Sibuk dengan Perasaan

Ketika sang penguasa di negeri itu melakukan penangkapan besar-besaran,
Cintaku yang dulu pernah di sana tidak lari atau bersembunyi, malah ia semakin berani;
ingin menjadi angin dingin demi mencuri kehangatan tubuhmu!

Ketika sang penguasa di negeri itu membungkam media massa,
Cintaku yang dulu bersemi pada bunga tulip telah bermekaran dan menjadi puisi dalam koran kota kita:
tak ada suara yang melarang matamu untuk membacanya diam-diam dalam pikiran; di kedalaman perasaan.

(STAR 976. Banda Aceh, 23092016, 00.00)

Hanya Sebuah Puisi

😀

Hanya sebuah puisi
yang berbasa-basi; berbahasa rapi
menyapa diri sendiri,

Hei kamu, apa kabar?

Matamu menenggelamkan matahari!
Itu sebabnya; kelam kehidupanku ketika kamu pergi.

(STAR 975. Banda Aceh, 22092016, 21.17)

Tanggal Kenangan

:S

Biarkan suara gemerisik ombak
masuk ke bilik sunyi yang tak terisi bunyi
di hati yang bergejolak
menolak keinginan cinta untuk jatuh sekali lagi.

Angin bergerak dari jarak jauh
dan berlabuh pada tubuh dingin
yang sendirian berjalan menyusuri kehangatan pantai yang landai bagaikan pemahaman kita yang dangkal dan gagal mengurai kesunyian kata; kesenyapan kita.

Mari menerjemah sebuah percakapan di laut;
antara jala nelayan dan mata ikan
yang saling memerangkap takdir masing-masing,
seperti itulah menerjemah
kata-kata yang larut dalam berbagai andai seperti kita yang hanyut dalam kemelut badai perasaan di hati.

Sunyi itu
ingin menjarah kedamaian kita; keramaian kata.

Andai kerinduan bisa kita abaikan seperti keramaian kota yang menyesakkan perasaan,
maka kita bisa tenang berbincang-bincang dengan kenangan tanpa takut dilecut waktu yang selalu terburu-buru berjalan ke masa depan.

(STAR 974. Banda Aceh, 12092016, 20.59)