Sayap-Sayap Keterasingan

Nak, kau juga harus berkawan
dengan segala keterasingan
agar hidup sesunyi apapun itu
takkan mampu memenjarakan pikiranmu.

terbanglah sebebas-bebasnya
meskipun sayapmu dipatahkan
sebab rasa sakit selalu menyembuhkan.

(STAR 615, Bus 464, 27092012, 08.58)

Advertisements

Sepucuk Surat Cinta (2)

biar matahari membaca terang-terangan
segala peristiwa di bumi.
tapi aku takkan membiarkan
ia melirik isi surat cinta ini.

ketika terbaca matamu surat ini
bagai di kamar pengantin,
segalanya penuh debar mesra
yang berdegup-degup sepanjang malam
dan menghalau gejolak rindu ke hulu pagi.

dan kau akan membalasnya dengan
senyuman paling rindu.

(STAR 614, Perçin Evi, 26092012, 21.16)

Sebuah Tatap yang Sengaja tak Mengerjap

tiba-tiba tatap matamu menjadi sesenyap malam musim dingin. tak ada kerjap-mengerjap. semua bayangan terpantul beku tanpa berucap.

kau memilih diam yang bukan sebuah pilihan. mengajak sepi bermalam di bibir tanpa ada sebuah pemberitahuan untukku.

tiba-tiba aku seperti kehilangan sesuatu.

(STAR 613, Perçin Evi, 26092012, 21.03)

Kepada yang Ter-rindu

:Ibu

malam bercahaya kehidupan di tiap pelukmu. rembulan tersipu malu menatap sinar kasihmu yang tak pernah pucat itu. selalu ragam warnanya seperti lengkung pelangi yang memeluk langit.

malam juga bercahaya di tiap tatapmu. telaga matamu selalu bening dalam memaknai segala tingkah gelapku. hanya pemahaman cinta sempurna yang selalu terpantul di sana.

di dekapmu, malam tetap bercahaya meskipun gemintang menggugurkan kerlipnya dan rembulan menyembunyikan wajah keperakannya.

(STAR 612, Perçin Evi, 22092012, 23.41)

Mata Rindu

Ran, rindu ini punya mata yang tak mengerjap, hanya menatap pada kesenyapan kata yang menguncupkan makna persahabatan kita. entah sajak seperti apa yang pantas menuntaskan keheningan seperti ini.

biarkan saja sepi hinggap di ranting-ranting waktu. asalkan tak merapuhkan kebersamaan kita.

Ran, di permukaan mata rindu itu aku menuliskan rasa kagum yang terbaca setia. senantiasa kuingat setiap gerak jejak-jejak yang melukiskan kisah pada tiap jarak. antara kita.

(STAR 611, Perçin Evi, 22092012, 16.21)

Sajak Sepagi Ini

ketika langit balas menatap
wajah-wajah kita yang terlalu cepat redup,
seperti kehilangan kerlip gemintangnya
yang barangkali kita sembunyikan
di balik wajah sepucat rembulan malam tadi

lalu kita menulis puisi
dari remah-remah kata sisa yang berserakan di halaman pagi
tanpa peduli
pada langit yang wajahnya berganti

(STAR 610, Perçin Evi, 17092012, 18.07)

Nyala Puisi

nyala puisi di hati bisa
lebih terang dari maknanya sendiri
jika kita mampu menyulut bara bahasa
menjadi pemahaman pasti

(STAR 609, Opera, 16092012, 13.37)

Bayangan Pekat Yang Memucatkan

sebuah rupa terbayang tenang
seperti terapung di permukaan matamu
entah milik siapa

kamu memilih tak bercerita
meskipun tanpa kata-kata
aku bisa membacanya

tetapi kamu diam
barangkali menyembunyikan entah sesuatu
yang terang-terangan menyapaku
lewat tatapan pucatmu

kugenggam jemarimu
perlahan-lahan kueja bisikan
yang menenangkan riak di matamu

”aku ingin berlayar di matamu
demi menangkap bayangan pekat itu”

(STAR 608, Perçin Evi, 16092012, 12.24)

Sebuah Bintang di Kejauhan

pada saat yang tepat
dan tempat yang memikat
kau akan menemukan bintangmu

lalu kau diajaknya bercahaya
di langit berbeda

kalian akan saling berbagi sinar pelita
yang jelita

kau hanya akan mengerlip dari kejauhan
mungkin menyampaikan pesan
yang tiba-tiba menjadi susah diterjemahkan……

(STAR 607, Hasköy, 11092012, 16.26)

Sajak Penyair

jangan kau peras anggur d ujung bait sajakku
kata-kata seperti ini tak memabukkan,
cukup petik maknanya saja
sebagai santapan imaji yang mengenyangkan hati.

***

penyihir merapal kata yang mungkin menjadi syair
tetapi penyair
merangkai makna yang bisa berupa sihir

jadi jangan samakan penyair dengan penyihir
meskipun ada sajak-sajakku yang seperti menyihir
hatimu.

(STAR 606, Hasköy, 11092012, 15.31)

Merindukanmu Pada Suatu Pagi Ketika Bibir Hujan Mengecup Tepi Daun Yang Merindukan Embun

apa kabarmu Pagi?
masihkah mereka mengucapkan selamat
atas nama kamu?

sepertinya wajahmu berseri-seri
apa karena mentari
masih setia berbagi kehangatannya denganmu?

kamu tahu,
aku mengagumi keceriaanmu yang membangunkan itu.

***

apa kabarmu Hujan?
kelihatannya kamu masih saja basah kuyup
apa kamu tidak kedinginan?

atau jangan-jangan kamu
sengaja menyembunyikan air matamu
dengan membasahi sekujur tubuhmu?

oh maafkan
aku lupa
kamu memang dilahirkan
untuk selalu berair mata keajaiban.

***

apa kabarmu Embun?
masihkah kamu bergelayutan
pada tepi daun yang setia menampung segala curahan itu?

ayo ceritakan padaku
kata seperti apa yang dibisikkan daun ketika
melepasmu jatuh?
apakah ia benar-benar merelakan kepergianmu?

ah, aku percaya
kalau kalian akan tetap saling merindukan
meskipun tak sempat berkata apa-apa.

***

apa kabarmu SeuLanga?

masih merindukan pagi yang membangunkanmu?

masih merindukan hujan yang menghapus air matamu?

masih merindukan embun yang menyejukkan segala rasamu?

ah, maafkan
seharusnya aku tak mengajukan pertanyaan terlebih dahulu,
sebenarnya aku hanya ingin menuliskan;

”aku masih merindukanmu, sahabat sejatiku”

(STAR 605, Hasköy, 09092012, 21.03)

Yang Meneduhkan

:Ibu

/1/
Ibu,
aku tak ingin memejamkan mata di sini
sebab wajahmu selalu terbayang
sangat dekat di pelupuk mata
namun jemariku tak bisa menyentuhnya

/2/
Ibu,
di tanah rantau ini
bayanganku bisa menjelma rupamu
yang mengiringi langkah tertatihku

/3/
Ibu,
aku tak bisa abai
rupanya selama ini
aku menghembuskan nafas rindu yang teramat panjang

/4/
Ibu,
aku juga tak mampu
memadamkan gelisah nyala
yang menyulut kerinduan padamu

/5/
Ibu,
sebelum memejamkan mata
aku ingin rebah di pangkuanmu
sebab itu adalah tempat paling teduh
untuk segala jeda

/6/
Ibu,
biarkan aku berjeda sejenak
sambil menyentuh wajah teduhmu
meskipun hanya sekejap

(STAR 604, Hasköy, 09092012, 18.05)

Antara Dua Suara

ini rembulan begitu purnama.
tetapi
aku seperti tertawan tawar matamu
yang temaram tak bercahaya.

barangkali kerlip gemintang itu telah berguguran. berjatuhan ke permukaan telaga matamu sebentar. ya, hanya terapung sebentar. sebelum tenggelam terlalu dalam hingga menumpahkan air mata yang telah penuh kau tampung sejak kedua mata indahmu kehilangan binarnya.

ahh,
ini malam begitu gigih
menahan kantukku.
mungkin ia telah bersepakat dengan para penjaga gerbang kota itu
yang tak membiarkan mimpiku masuk.

rasa lelah telah merapuhkan tembok penantian yang tegap kaku. sebab angin hanya meniupkan kerinduan saja. tak pernah berhembus untuk mempertemukan kita. meskipun lewat suara-suara yang ringkih terpisah jarak.

aku ingin pagi ini berkicau
dengan merdunya sendiri
tanpa melupakan malam yang tak bisa
memejamkan matanya
sebab merindukan suara kita…..

(STAR 603, Perçin Evi, 05092012, 00.19)