Hujan di Malam Tahun Baru

Semuanya sama saja
Hujan turun, tanah basah, langit kering dan sering berubah warna

Segalanya sama saja; kau dan aku
Hanyalah dua kata yang sedang rindu

Yang berbeda adalah cinta
Sepasang perasaan yang berlainan tapi bisa berkata iya
Pada pertanyaan masa depan yang menantangnya sekarang

(STAR 1019. Banda Aceh, 04012018, 20.28)

Advertisements

Wahai Perempuan dengan Ribuan Kenangan dan Sejuta Rahasia!

Jika kubawa kata-kata pergi
mengelilingi bumi
Masih bisakah kamu mendengar bunyi puisi yang mengisi kehampaan udara
Yang terkadang bernyanyi merayakan pertemuan kita berdua dalam satu perasaan yang sama?

Kita adalah kata-kata ditakdirkan berpijak pada ranah sajak yang berbeda
untuk memberi ragam warna pada maknanya
agar ada yang bijak memahami arti puisi cinta sebagai untaian kebahagian, bukan sebagai rinai kesedihan tak berkesudahan.

Hujan akan reda
Tapi kenangan akan berbeda
tak berhenti mencurahkan perasaan pada ingatan perempuan yang selalu ramai dengan berbagai andai……

(STAR 1015. Banda Aceh, 26122017, 13.51)

Kutuliskan Kita

Kutuliskan nyanyian perasaan; lagu rindu yang terdengar sendu di telinga perempuan-perempuan yang sedang menanti langit hati berubah warna, nyala merah cinta

Cinta darimu adalah curahan hujan yang tidak sampai menjadi genangan di depanku, hanya membasahkan sebentar.

Kutuliskan juga kenangan yang sudah basah pada mata yang tiada lelahnya menyapa beberapa hal yang akan mudah hilang ketika kita menyimpannya sebagai bagian ingatan

Ingatan padamu adalah sinar rembulan yang kemudian sirna ketika pagi datang menjadi hari yang lebih terang menyembunyikan kegelapan.

(STAR 1014. Banda Aceh, 26122017, 13.45)

Turbulensi Aneh pada Jakarta – Banda Aceh

Penyair kita sangat lihai menerbangkan perasaannya bersama pesawat udara,
lewat kata-kata yang melambai-lambai dari luar jendela

Di kursi dua puluh satu D dia bertanya apa,
Apa yang ingin dikatakan kata-kata pada suatu ketinggian yang diguncang kecemasan?
Cinta?

Tapi cinta tidak tepat diucapkan tanpa kepastian.

Penyair kita teringat kepada ibu Kenangan yang berkata jangan
pada Lupa yang mengajaknya ke ketiadaan
karena ada beberapa hal yang harus diwariskan pada anak-anak Perasaan
agar mereka belajar jadi dewasa dan tidak cepat suka pada kata-kata yang dapat membuat luka.

Goncangan pada tubuh udara meluruhkan keinginannya untuk menjauh dari keriuhan bumi,
Ada kehampaan udara atau gumpalan cumolonimbus yang menyapa
dan sekaligus menyentuh ketakutan tanpa berkata apa-apa

Tapi cinta tidak cepat dikatakan, bukan?

(STAR 1013. Banda Aceh, 21092017, 10.46)

Cinta Adalah Hembusan Kehidupan Sehingga Kita Mengenal Kekekalan-Nya dan Kematian Kita

Cinta adalah kosakata yang sering hilang dari kamus bahasa
Karena sering dipinjam orang untuk memberi definisi pada sesuatu yang ganjil di pikirannya, yang muskil diterjemahkan dengan kata-kata biasa

Orang-orang ramai memakai kata cinta untuk menyatakan perasaannya dengan arti yang berbeda-beda
Sehingga cinta dikembalikan kepada kamus bahasa setelah disempitkan maknanya.

Aku akan mengatakan cinta
pada kamu
Dengan cinta yang sudah menjadi udara
Yang perlu kamu hirup untuk hidup
Yang sudah terbebas dari ikatan bahasa

Maka bernafaslah dengan tenang
Karena cinta bisa dinyatakan dengan terang-terangan

(STAR 1012. Banda Aceh, 27082017, 23.30)

Ketika Penyair Sedang Menyebrangi Perasaannya

Ha ha ha
Tiba-tiba penyair mati ditabrak kereta kata

(STAR 1011. Banda Aceh, 27082017, 12.59)

Dua Tujuh

/1/Terkadang hujan datang
/2/tapi penyair kita sedang menghilang
/3/dalam bayang-bayang hari yang mengiringi matahari ke ujung petang

***

/4/Wahai penyair kita,
/5/Awan lebih dahulu tahu cara melepaskan
/6/Dengan perlahan-lahan
/7/Sebelum tanganmu belajar cepat menggenggam dan mengenal kehilangan yang sangat besar

***

/8/Duhai penyiar kata,
/9/Terkadang hujan menyentuh bagian perasaan yang kita rahasiakan
/10/Seperti membasuh biji kering dalam tanah
/11/sehingga akan tumbuh akar, batang, daun, dan bunga sendiri
/12/kemudian berbuah manis untuk dimakan orang lain

/13/Tidak apa-apa
/14/Meskipun awalnya getir di pangkal takdir
/15/walaupun cinta menumbuhkan luka
/16/kemudian kata-kita menyembuhkan apa saja

***

/17/Terkadang hujan mengenal kita
/18/sebagai pasangan kata yang terkenal pada sebuah puisi lama
/19/yang suka berjalan-jalan di bawah rintik-rintiknya
/20/untuk menemukan titik-titik warna
/21/yang berbeda pada detik-detik yang menghabisi kita tanpa henti

***

/22/Wahai penyair kita
/23/Tak perlu berlari mencari warna-warni cinta ke ujung bumi
/24/Terkadang kita sedang berdiri sendirian
dan ada pelangi yang datang menghiasi kesepian langit hati

***

/25/Selamat berulang tahun, penyair muda!
/26/meskipun kemarin lupa
/27/dan tanpa ucapan apa-apa, selalu ada kecupan pada bibir kata

(STAR 1010. Banda Aceh, 21082017, 20.20)

Senantiasa Ada

Jika hanya dengan kerinduan
Kata-kata bisa menemukan rahasia perasaan
Di udara yang bergerak bebas
Di dada yang sesak dengan kecemasan,
Perempuan dan waktu yang memburu sesuatu di masa depan
Akan meluaskan pemahaman pada kerumitan cinta
Yang senatiasa ada

Dan rinai hujan beramai-ramai mengunjungi hutan kepala perempuan yang lebat pekat melindungi kenangan
yang mudah basah dengan curahan perasaan

(STAR 1009. Banda Aceh, 05082017, 15.09)

Cinta Hanya Akan Menemukan Bekasnya di Antara Kita

maka cinta tidak menemukan batasnya
di antara kau dan aku

(STAR 1008. Banda Aceh, 31072017, 19.05)

Hanya Kata-Kata

hanya kata-kata yang tetap berucap cinta
dengan setianya
dengan manisnya
ketika tangan merasakan kehilangan
setelah meraba-raba dada dan menemukan terowongan duka
yang menganga seberapa lama

hanya kata-kata yang mungkin ingin menggenggam jemarimu
dengan hangat
dengan eratnya,
jemari yang dingin dan gemetar
karena kehilangan lingkaran takdir yang sedang berputar-putar sebentar
di tangan orang yang berlainan

hanya kata-kata yang kupunya
misalnya untuk menuliskan perihal kerinduan yang semakin mahal dijual
orang-orang yang tidak pernah mengenal kesepian

(STAR 1007. Banda Aceh, 31072017, 18.29)

Sebetapa Hebatnya Ibuku

Ibu bisa mendengar kabar kerinduanku dengan sabar, dengan membesarkan langkah kakiku yang belajar menjelajah jauh, dan pasti kembali setelah lelah mengarungi perasaan yang asing.

Ibu bisa membisikkan doa dengan baik di antara suara-suara yang berisik mengusik perjalananku, sehingga doanya dipetik awan dan putik-putik hujan berjatuhan, memberi berkah pada langkah tujuanku.

Ibu bisa menemukan berbagai jawaban sebelum mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang sunyi percakapanku, seperti hidangan makan malam yang diam-diam disiapkannya sebelum perutku berbunyi.

(STAR 1006. Banda Aceh, 27072017, 22.51)

Ah, Alangkah

Alangkah betahnya kata-kata itu tinggal di rumahmu, bisa berteduh dari jenuh perasaan, dapat bersembunyi dari sunyi percakapan.

Kata-kata adalah puisi yang tiba-tiba menerangi, adalah sajak yang seketika mengajakku mengunjungi.

Ah, alangkah rindunya aku padamu.

(STAR 1005. Banda Aceh, 27072017, 22.07)

Selalu Ada Kita Pada Segalanya Cinta

Selalu ada gerimis dan hujan yang turun dari ketinggian
karena panggilan suara perempuan yang menangis perlahan-lahan
setelah ia terjatuh sesudah tangannya melepaskan tali-tali pengharapan
yang merapuh dari ikatan perasaannya

Awan bisa melekaskan kepergian hujan
supaya mendung segera berlalu
supaya langit kembali biru
dan hati perempuan tak berwarna kelabu

Selalu ada kata-kata yang kutuliskan tentang perempuan dan hujan
tentang persahabatan dan perasaan
karena segalanya bermula dari kita
yang kemudian menemukan warna yang berbeda pada cinta.

(STAR 1004. Banda Aceh, 14072017, 19.03)

Apakah Ada Rindu Di Ujung Jemariku Ketika Namamu Kuukir Di Salju?

Dan hatiku berdesir ketika kamu menulis namaku
di pasir pantai yang landai
sebelum riak ombak yang terburu-buru sampai
yang cemburu mengikis huruf-hurufnya satu persatu.

Barangkali aku akan tetap mencintaimu meskipun
cinta itu terusir dari perasaan
menuju tepi
tempat tergelincirnya sepi dan
aku akan terjatuh sekali lagi
seorang diri

di kedalaman diri akan kutemukan kebahagiaan kata yang menyembunyikan kita
sebagai rangkaian nama yang memberi arti
bagi pertemuan dan perpisahan pada suatu puisi.

Kita akan merayakan kehilangan-kehilangan dengan saling mengenang
hal-hal asing yang paling kekal
di perasaan; seperti rindu itu atau cinta ini…….

(STAR 1003. Banda Aceh, 11072017, 23.49)

Kapan Rinai Hujan Selesai Menurunkan Perasaan Kita Dari Ketinggian Kata?

Kita sudah terbiasa bertemu dengan hujan
Dan seperti biasanya ia ingin tau tentang perasaan kita yang tidak berkesudahan
Ketika sedang berjalan menyebrangi hati masing-masing
yang anehnya masih saja terasa asing.

Mungkin kita sudah lama tidak mengenal yang kekal pada kata-kata bukan huruf-hurufnya, adalah kebenaran maknanya yang dituliskan dengan tangan dan perasaan yang bergetar.

Hujan di luar
dan kata-kata itu menurunkan apa-apa yang telah kita ucapkan sebagai luapan besar
yang akan menenggelamkan kenangan ke dasar
ingatan.

(STAR 1025. Banda Aceh, 01062018, 22.16)

Debar Perasaan

:my future princess

kutawarkan debar-debar perasaan
yang bukan suara bertebaran di keramaian,
hanya kepadamu aku mengatakan dengan perasaan yang menyimpan rahasia tak terdengar tentang cinta yang tidak mudah diucapkan, tentang cinta yang susah dilupakan.

apa artinya ingatan yang hilang
bagi kenangan baru yang akan tumbuh di kepalamu
ketika kita bertemu dan saling rindu?

apakah bagian rumit darimu akan menyimpan sekelumit aku? di suatu waktu yang selalu ada, kenanglah pertemuaan kita sebagai perumpamaan kata yang menjelaskan cinta dengan ragam maknanya, dengan macam bentuknya.

kutawarkan debar-debar perasaan
yang bukan suara bertebaran di keramaian,
hanya kepadamu aku mengatakan
tentang cinta yang tidak mudah diucapkan.

(STAR 1024. Banda Aceh, 28052018, 15.51)

Menjadi Diri yang Puisi

Sebelum jatuh cinta, kamu tidak bisa mengajak kata-kata yang tergeletak dalam keheningan untuk bersajak tentang keramaian yang lantang bersuara. Kata-kata terdiam dalam sunyi, bungkam dalam diri sebelum menjadi puisi.

Kamu akan menemukan yang hilang dari kesendirian, yang lekang dari lapisan perasaan seseorang, setelah jatuh ke kedalaman cinta berulang kali.

(STAR 1023. Banda Aceh, 28052018, 15.30)

Bisikan Pikiran yang Diterbangkan Angin, Percikan Perasaan yang Dikembangkan Angan

Anggap saja kata-kata di puisi ini
Hanya basa basi, bahasa sepi yang terpaksa menyapa
Dengan bersuara pelan di depan matamu yang ragu-ragu menatap kesendirianku.

Percayalah
Kata-kata tidak mudah diajak untuk bersajak, pasti ada yang tidak berkehendak memberi warna pada hati yang kelabu, pada hati yang mau berwarna merah jambu tapi tidak mampu
berubah itu.

Tapi
cinta yang tidak berubah warna itu bergejolak saja dalam merah darah, tak peduli
pada sekumpulan kata yang menolak perubahan, yang tidak ingin ikut dalam urusan perasaan.

Barangkali ratusan pertanyaan terbentang di awang-awang pikiran
yang sedang diguncang kecemasan.

Apa kabarmu sekarang?
Semoga hari kemarin berbaik hati kepadamu
dengan memberi warna lain pada besok
agar kehidupan hari ini tak membosankan

meskipun langit berubah warna menjadi biru atau kelabu
meskipun sinar matahari bermekaran atau dingin hujan membasahkan
(dengan puisi ini)
aku tetap berdiri tegap di depan matamu
yang masih ragu-ragu menatap kesendirianku

(STAR 1022. Banda Aceh, 13052018, 19.03)

Sialan! Hujan Tak Juga Berhenti Membasahi Pikiran.

(setelah membaca buku puisi “Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita -karya Sapardi Djoko Damono”)

Malam-malam seperti ini
Tak ada lagi bunyi puisi yang kusimpan dan kunyanyikan untuk menghibur kenangan, mengubur perasaan,
Segalanya meledak dalam kesenyapan; sebagai sunyi yang mengendap lama di antara kita;
Tidak melengking bersuara, tak saling sapa.

Perempuan yang sempat menunggu
Selalu mendengar kata-kata yang kadang-kadang tidak malu bilang rindu
Dariku.

Perempuan yang menyembunyikan tangisnya
Setelah Sutradara menghapus percakapan perasaan yang dirahasiakan itu.

Perempuan yang barangkali sempat bertanya-tanya
Pada sepasang sayap burung kertas yang kulipat
Dengan simetris dan tepat
Tapi tidak bisa juga terbang memberi kepastian atau bertengger sejenak saja di dahan pohon mangga di depan rumahnya untuk bercericit tentang harapan yang kutanam di empat musim yang salah
yang telah menumbuhkan cinta.

Perempuan yang disukai hujan
dan bisa menampung segala curahan.

Malam-malam seperti ini
Hanya ada kebisuan dari hembusan napas panjang seseorang yang ingin menangis di gurun dengan setetes air mata saja
Sebab tak ada pepohonan yang membutuhkannya di sana.

(STAR 1021. Banda Aceh, 08022018, 22.15)

Tak Perlu Menunggu Kiriman Hujan Musiman Untuk Memadamkan Kegelisahan yang Membakar Perasaan, Kita Bisa Menimba Air dengan Tangan

:my future princess

kita akan setia
menjadi cinta yang saling mengunjungi
seperti ombak dan pasir, saling melepaskan dan merindukan bersama desir-desir udara yang cemburu mengganggu.

di ujung hari kita akan kembali lagi
dengan cerita-cerita haru
dengan mengulang senja yang baru dan menggulung matahari ke dalam malam.

(STAR 1020. Banda Aceh, 06012018, 19.47)