Aside

Malam Membisu

:Putri

Apakah kamu baik-baik saja di sana?
malam membisu.
tak terdengar kabar
atau desau angin yang mengganggu tidurku,
hanya ada suara gemuruh dari langit jauh
yang entah bagaimana caranya
ia telah menyusup lewat pori-pori kulit tubuhku yang merinding
dan ia sedang meruntuhkan dinding-dinding sunyi
yang menyekat ruang kekhawatiran dari hal-hal tak terduga.

Apakah kamu baik-baik saja di sana?
sebentar lagi hujan turun.
kesedihan akan lekas terlepas dari langit itu;
langit yang luas tapi tak sanggup menahan kepergian yang telah direncanakan.
jangan berjalan sendirian di luar,
berteduhlah di bawah rindang rumahmu.

Apakah kamu baik-baik saja di sana?
perjalanan pulang memang tak singkat;
harus ada jutaan kepak sayap bagi burung-burung.
dan kita bertanya-tanya;
apakah di bawah langit mendung
wajah mereka juga murung?
tak usah bingung, biarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini mengapung di ketinggian.

Apakah kamu baik-baik saja di sana?
sebentar lagi pagi.
semoga terdengar kabar,
ada sinar dari binar matamu
atau kilau matahari yang menerangi sepanjang hari.

(STAR 938. Erkam Evi, 22072015, 01.55)

Advertisements
Aside

Apakah Kau Mau Bersedih Hari Ini?

:Siska Amelia Putri

Beginilah takdir kata-kata yang lahir dari keinginan dan kerajinan tangan penyair: menjadi puisi yang kadang-kadang susah dipahami

tapi jangan salah, aku tak ingin menyihir mata pembaca,
kata-kata di puisi ini tidak magis,
yang punya kekuatan mistis itu adalah mata gadis sepertimu yang bisa
menyentuh segala suasana di masa lalu dalam sekilas waktu
dan mampu menyimpan perasaan untuk masa depan dalam sekejap lamanya.

Apakah kau mau bersedih hari ini?
tentu saja aku bersedia mengubah larik puisi ini
sebagai lirik-lirik lagu kesedihan
asalkan kau mau menangis sejadi-jadinya
tanpa berpura-pura jujur menghibur orang gila sepertiku
yang malah menyuruhmu menangis tiba-tiba

Maka, karena sudah terlanjur jujur,
menangislah meskipun kau lupa untuk apa,
tak apa-apa jika kau tak mengingat siapa saja yang tak mampu membuatmu tertawa,
menangislah dengan apa adanya
jangan biarkan kata-kata berdesakan dalam dada yang sesak,
sebab selalu ada rasa pahit yang berhimpitan dengan manis kenangan

Menangislah dengan mudah
karena untuk menggugurkan luka lewat air mata itu tak susah
akan terasa lebih sederhana ketika kau bisa menemukan kebahagiaan lain yang menyeka duka di wajah gundahmu
sehingga suatu ketika kau akan berkata dengan bangga: aku bahagia karena menemukanmu setelah lelah mata mengurai makna kesedihan, hanya tersisa sedikit air mata untuk terharu bersamamu

Menangislah sepuas-puasnya
ketika tak ada kata yang pas di ruas-ruas dada untuk menulis baris-baris kalimat duka di selembar surat tak beralamat,
tak apa-apa
barangkali tetesan air matamu akan menghapus kehampaan
di kertas putih kosong itu

Menangislah bukan karena terpaksa
tapi karena memilih untuk tak tertawa
ketika hidup menyuguhkan lelucon tak lucu
seperti kehilangan, perpisahan, dan kematian.

Apakah kau mau menangis hari ini?
menangislah bersamaku di hari hujan, kau menjadi langit
dan aku sebagai matahari
sehingga bisa tercipta pelangi.

(STAR 935. Gülistan Evi, 26042015, 16.30)

Aside

21

Putri, barangkali jarak terdekat kita
adalah antara dua kata asing
yang saling menyapa dengan heningnya masing-masing
yang sering dibaca mata secara bergantian demi menemukan makna terselubung
dalam sebaris judul puisi yang belum rampung

Di usiamu yang ke-duapuluh-satu
aku tak mampu mendekatkan dua kata itu
atau merekat huruf-hurufnya jadi satu,
ah, biar saja mereka dipisahkan sebuah spasi
agar ada tempat buat kata lain yang mungkin ingin diletakkan oleh Sang Penyair
sebagai terjemahan makna takdir

Di usia kesekian yang bertambah banyak
akankah kutemukan dirimu di dalam sajak yang bijak mengajak mata
untuk membacanya dengan perlahan-lahan;
tak perlu takut diburu waktu yang dulu membiakkan ragu di tubuhmu

Memang sengaja kutulis puisi ini di lini masamu
di detik-detik terakhir keberangkatan angka 21 dari kalender kotamu
meskipun kata-kata sudah berbaris sangat lama di kotaku
sejak kedatangan hari di tahun yang mengulang kelahiran dan memulangkan kenangan,
biar kata-kata mengantar kepergian yang sebentar dan juga menyampaikan kabar
bahwa perayaan hari ini belum juga selesai
sebab di kehidupan masih banyak peristiwa dan rahasia
yang perlu dirayakan dengan senyuman
sehingga tak sia-sia menjadi sisa kenangan

Demi tahun-tahun yang selamat mengulang kelahiran dan sempat memulangkan kenangan, kuucapkan
”Selamat ulang tahun” hanya untukmu.

(STAR 934. METU, 21042015, 19.30)

Aside

Pada Remang Kenangan

:Putri

Bukan keinginan awan
yang menyembunyikan rembulan dari penglihatan

bukan juga keinginan kata
yang bungkam, terdiam tak menyapa
sehingga kita menduga-duga
siapa yang berani meletakkan spasi tanda jeda di sela-sela percakapan kita
dan ada sebuah tanda tanya
yang entah punya siapa.

Ini malam tak seperti biasanya
betapa gelap ia; lenyap segala cahaya
dan senyap beberapa manusia
mematikan gemerlap dunia.

Di halte bus yang menyiapkan keberangkatan dan menerima kedatangan yang sebentar
aku berdiri termangu
sendiri menunggu
tapi tanpa kamu kereta waktu tak mau beranjak dari situ.

Pada saat yang kurang tepat
kita sempat lupa merekatkan nyala kunang-kunang pada remang kenangan

tapi tak apa-apa
kita tak akan terluka karena
cinta yang terlambat diucapakan, bukan?

(STAR 932. Erkam Evi, 25032015, 00.06)

Aside

Kepada yang Mengusik Tidurmu

:Putri

Kepada sesuatu yang mengusik tidurmu
aku ingin membisiki bunyi puisi yang semerdu nyanyian ibu
yang dulu mampu memekarkan bunga perdu di rimbun mimpimu

Agar matamu tak terjaga
kata-kata bersuara
dengan perlahan-lahan
dan masuk ke lorong telinga diam-diam,
lalu merasuk ke dalam kantukmu
tanpa perlu mengetuk pintu hatimu

Di sana mereka bernyanyi dengan merdu
untuk sesuatu yang mengusik tidurmu

(STAR 931. Pursaklar, 09032015, 20.28)

Aside

Di Luar Percakapan Kita

:Putri

Di luar percakapan kita
aku mendengar kebisuan kata
yang terpaksa menyembunyikan suara-suaranya
yang lantang bergema

”semoga ini hanya sebentar”, ujar satu kata
”benar, kita harus kembali sadar agar tak terlantar di luar,
dihanyutkan arus kesunyian”, kata si kata lainnya
(tentu saja kau tak bisa mendengar percakapan mereka)

Kuterka rindu itu seumpama kata yang
kita biarkan gemetar
berjalan sendirian di luar percakapan kita
yang ingin segera menjadi suara
sehingga ia bisa menggeletar jauh
meruntuhkan kesunyian

(STAR 930. Erkam Evi, 02032015, 23.02)

Aside

Di Separuh Perjalanan, Ada Jarak yang Memanjang ke Belakang dan di Depan Ada Rindu yang Bergerak Mendekat

:Putri

Sebelum berpisah, pelukan adalah penghangat yang cepat
sehingga di sepanjang perjalanan yang terasa lambat
kau bisa memeluk tubuhmu sendiri
yang melekatkan dekap cinta menyeluruh mereka dengan erat

Sebelum berpisah, pelukan adalah penguat yang hebat
menambah tenaga pada langkah-langkah goyah
ketika gelisah berjalan sendirian

Sebelum berpisah, pelukan adalah pengingat yang tepat
bahwa kerinduan akan tumbuh lebat di tubuh siapa saja
yang menempuh perjalanan jauh
atau berpergian ke jarak dekat

Sungguh kerinduan itu mengakar kuat di tempat mereka berdiri melambaikan tangan
dan ia menjalar cepat sampai ke akhir tujuan; kota Medan
meskipun ini baru separuh perjalanan

(STAR 929. Erkam Evi, 28022015, 19.33)

Aside

Di Sela Tangismu

:Putri

tadi pagi, di sela tangismu
sejumlah gerimis singgah di alis mataku
bersama detik-detik waktu yang lekas sirna (tak membekas seperti jejak-jejak cahaya)
mereka menggugurkan rintik-rintik rindu
dari mata kita;
mata yang tak saling tatap tapi sering memerangkap kata-kata
yang bisa berbicara
dari jarak terjauh, di sajak tersentuh

(STAR 928. Erkam Evi, 28022015, 13.34)

Aside

Langit Menyuguhkan Senja yang Sederhana tapi Sempurna

:Putri

Segelas teh tanpa gula sudah terhidang di atas meja
panas-nikmatnya terasa agak berbeda; sedikit istimewa
karena langit juga menyuguhkan sesuatu yang sempurna; senja yang sederhana

Kubayangkan kata-kataku yang usang
yang berkali-kali didaur ulang agar terlihat cemerlang seperti terang binar matamu
seperti langit petang yang punya senja
bercahaya biasa-biasa saja
tapi selalu menggoda mata kita untuk menatapnya lama
yang kadang-kadang membuat mata jadi merah, hati gundah karenanya

Sesederhana senja yang sempurna
Kata-kata hanyalah umpama
bagi puisi semelankoli ini

(STAR 927. Erkam Evi, 26022015, 19.38)

Aside

Gugurnya Gerimis Perlahan-lahan Menghibur Tangis Kehilangan

:Putri

Rinai hujan mulai berguguran
dari langit kota ini

awalnya ia hanya sebaris gerimis yang tipis
yang rintik-rintik kecilnya bisa kita tepis
dengan tangan.

Guyuran hujan menghilangkan guguran salju
tapi tak ada sesuatu yang mampu menggantikan rindunya aku padamu
yang itu-itu saja sejak dulu

(STAR 926. Erkam Evi, 24022015, 00.26)