Eyang Subur (2)

subur-lah kesesatan di negeri yang tanahnya disebut subur
sehingga beritanya merambat cepat dan menjalar
masuk ke telingaku yang jauh, tapi sebelum ia berakar
aku menebas batang serta pucuk-pucuknya dengan pisau istighfar

lalu dalam puisi ini ia mekar
hanya sebagai potongan kabar.

(STAR 730. Bus 132, 26042013, 10.36)

Advertisements

Perkenalkan (5)

aku menjadi rintik hujan kecil
yang tak ingin kembali ke pelukan awan
setelah bibir mungilnya bergetar ketika mengecup tepi daun itu.

Ran, perkenalkan!
aku adalah aku yang lain dan lain-lainnya.

(STAR 714. Bus 132, 30032013, 16.50)

Perkenalkan (4)

aku menjadi mendung yang bergelayutan memayungi
reranting layu dari sengatan matahari,
yang ingin segera menumpahkan rintik-rintik hujan
untuk memekarkan kelopak hijau di ujungnya.

Ran, perkenalkan!
aku adalah aku yang lain dan lainnya.

(STAR 713. Bus 132, 30032013, 16.43)

DaMar 16

seperti yang pernah kukabarkan padamu;
aku rindu hujan yang berjatuhan dari langit kotamu.

di kota ini,
gerimis dan dingin turun beriringan sebelum berjatuhan ke tubuh jalan yang tak pernah menggigil kedinginan. jalan itu masih saja menghitam dalam kepekatan malam. Hanya garis-garis putih yang membelah ruas badannya membentangkan tujuan.

”jangan salahkan jalan itu jika kau tersesat dan kedinginan. memang ia kadang-kadang menyimpang dan menjadi titik perseteruan arah. ayunkan saja langkah kakimu. jangan ragu-ragu. biar terdengar bunyi tapak perjalanan yang berani menerjang keterjauhan.”

angin berseru dan menderu setelah berjingkat-jingkat di tepi jalan itu.

aku pura-pura tak mendengar.
aku kedinginan.

bibir mungil gerimis yang masih mengecup rata tubuh kaku jalan itu setengah membeku dan hanya berbisik kecil;

”tik…. tik…. tik….”

tetapi aku mendengar bisikan lain. seperti desis suara yang berkata kerinduan dalam kedinginan dan kerterjauhan perjalanan……

(STAR 704. Bus 132, 12032013, 22.04)

Sajak Sebuah Keberangkatan Sebelum Terlelap dalam Perjalanan

aku membiarkan lelap menemani perjalanan ini. tak perlu mengerjap-ngerjapkan mata ke arah keberangkatan. beban perpisahan akan segera lenyap dalam senyap jika lelap itu mau mengatup di pelupuk mataku.

semoga dalam mimpi aku juga terlelap.

semoga lambaian tanganmu tadi tak membangunkan perjalanan panjang ini.

(STAR 699. Bus 132, 04032013, 18.18)

Sajak untuk Ran

yang tak pernah selesai kubaca
adalah rangkaian isyarat rindumu
yang tiba-tiba menurunkan hujan dari langit senja;

seketika ingatanku meluapkan kenangan
yang seperti terkelupas dari semburat jingga.

yang tak pernah selesai kupertaruhkan
adalah sepotong luka lama
yang berulang kali disayat pisau kata;

matanya berkilat-kilat
sebab terlampau tajam dalam memaknai cerita duka
yang entah batas deritanya.

yang tak pernah selesai kusapa
adalah kerdip matamu
yang menggugurkan kerlip gemintang ke sebuah telaga
ketika membaca sajak ini;

begitu benderang tiap ujung bait katanya
yang memancarkan kerinduan pada sebuah nama.

(STAR 663. Bus 132, 06122012, 21.46)