Mari Mengenang yang Hilang Tanpa Berlinang Air Mata, Kita Tidak Mau Kenangan Itu Basah Atau Dihanyutkan Jauh Ke Dalam Hulu Perasaan

🙂

Hei, apa kabar? Ini malam yang menyenangkan, bukan? Wajah langit dicerahkan rembulan. Seperti wajahmu yang tersenyum; menyabit rinduku.

Sudah lama aku tidak membiarkan kata-kata menuliskan kerinduanmu padaku. Kau tahu, aku pemalu. Tidak berani berkata-kata pada kerling matamu. Tidak berani bersuara pada heningmu. Tapi aku juga rindu.

Apa kabarmu? Lagi-lagi aku bertanya pada semesta. Yang menyimpan rahasia perasaanmu. Semoga kamu baik-baik saja. Di mana saja. Bersama dia. Dan aku akan menjaga kebaikan hatimu. Oh iya, jangan terluka karena cinta, ya!

Cinta? Hahaha. Lagi-lagi aku menuliskan kata yang serupa. Tidak sengaja. Seperti hari itu; ketika kata-kata keluar dan berlarian ke depanmu. Ingin memeluk kesendirianmu. Ingin berbisik sesuatu yang sudah kau tahu. Seseorang mencintaimu sejak dulu.

Ah. Lupakan saja itu. Kita masih kekanak-kanakan waktu itu. Sekarang cintamu sudah berbeda, telah dewasa bersamanya.

Lihatlah! Bintang-bintang yang bersinar terang. Binar kedua matamu. Dari kejauhan menerangi malamku………..

🙂

Advertisements

One thought on “Mari Mengenang yang Hilang Tanpa Berlinang Air Mata, Kita Tidak Mau Kenangan Itu Basah Atau Dihanyutkan Jauh Ke Dalam Hulu Perasaan

Comments are closed.