Sendiri-Sendiri

Di pinggir malam
Kubiarkan rinduku menyepi
Sendiri dalam pelukan sepi

Sementara aku berdiri di tengah keramaian
yang gaduh
Kian mengaduh dalam pikiran

(STAR 405. Yıldırım Evi, 20102011, 22.38)

Advertisements

Bediuzzaman (1)

Pada tahun seribu delapan ratus tujuh puluh tujuh:

Pegunungan Taurus menyaksikan
kelahiran “keajaiban zaman”
di sebuah rumah bebatuan
yang beratap jerami dan dinaungi pepohonan.

Said kecil telah lahir ke dunia,
di Desa Nurs. Ayahnya adalah Sufi Mirza,
suami Ibunda Nura.

(STAR 404. Yıldırım Evi, 19102011, 22.41)

Sajak Tentang Kepastian

: SeuLanga

Katakan padanya:

Andai kepastian itu milikku
Kan kuberikan seutuhnya padamu
Tanpa ragu-ragu.

Telah lama kembang mekar berupa kata
yang beraroma makna setia
Dalam sajak ketulusan kita,

Tetapi kepastian tetap milik-Nya
Masih terselubung segenap rahasia
yang tertulis dalam Kitab Induk yang nyata.

Katakan juga padanya:

Puisi-puisiku tidak pernah merayu
Karena hanya akan membuatmu layu,

Sajak-sajakku adalah bunga
yang memekarkan persahabatan abadi kita.

(STAR 403. Yıldırım Evi, 19102011, 22.16)

Nyiur Yang Melambai di Pantai Hatimu

: Ibunda tercinta

Aku ingin menyanyikan lagu itu lagi, Bu.

Suara yang keluar malu-malu dari mulut kecilku mengundang bulan sabit di wajahmu.

Sungguh benderang kebahagian itu, Bu.

”Nyiur melambai di tepi pantai…”

Di depan kelas suaraku berderai-derai

Memecah keheningan dan bertepuk pada ramai.

Kutatap wajahmu lagi, Bu.

Kau tersenyum dan suaramu menyentuh kelembutan lagu itu,

Sungguh. Aku rindu.

Aku ingin menyanyikan lagu itu lagi, Bu.

Aku ingin menjadi nyiur yang melambai di tepi pantai hatimu

Selalu.

(STAR 402. Yıldırım Evi, 18102011, 18.06)

Aku Bukan Penyair

/1/
Kukatakan pada kalian
Aku bukan penyair salon
yang jidatnya terbentur pertanyan
Rendra, tentang sajakku yang tak menyuara ketidak adilan
Karena sering memilih anggur dan rembulan.

/2/
Sebenarnya aku bukan penyair
Meskipun sajak-sajakku lahir
dari kemurnian imaji sendiri, yang kubiarkan mengalir
ke jalanan dan ke ujung penderitaan tanpa akhir.

(STAR 401. Kapadokya-Ankara, 16102011, 20.49)

Gua Cappadocia

Kita tiba di bibir gua
yang menganga terbuka
menyambut kita yang tertawa
tanpa mengulurkan sapa
ketika hanya menggali makna

Kita tidak melihat mereka berlari
lalu bersembunyi
sambil terus menggali sebuah gua untuk dihuni
Tetapi kita membaca tanda-tanda yang ditinggal berupa seni
bertahan dan berteman sepi

(STAR 400. Kapadokya, 16102011, 15.58)

Kasih Ibu yang Bersinar Sepanjang Masa

Ibu,
Aku ingin memeluk kehangatanmu
dalam kabut pagi ini
yang menggigilkan kerinduan di hati.

Ibu,
Kasihmu menyinari hari-hariku
serupa cahaya mentari
yang ikhlas menyinari bumi.

(STAR 399. Ankara-Kapadokya, 16102011, 07.27)

Perjalanan Pagi

Jalanan basah
tergilas roda-roda perjalanan
Membiarkan ramai tumpah ruah
di atasnya, sepanjang jarak yang ditempuh pagi.

(STAR 398. Ankara-Kapadokya, 16102011, 07.06)

Makna Kita Tanpa Kata

Kata-kata itu rubuh

Sebelum sempat berlabuh

di hatimu, satu persatu tenggelam dalam tubuh

 

Tetapi maknanya telah sampai

dari dahulu

Memekarkan persahabatan sejati

 

***

 

Tak diperlukan kata

untuk dua hati yang memaknai kita.

 

(STAR 397, Yıldırım Evi, 16102011, 01.19)

Lilin Tanpa Api

Tuhanku,

dalam kesunyian ini

cahaya lilin kecil padam di hatiku

sebagai tanda redupnya kesombongan diri

 

Tuhanku,

aku adalah lilin tanpa api

yang butuh sinar dari nyala cinta-Mu

sebagai penerang jalan setelah mati

 

(STAR 396. Yıldırım Evi, 16102011, 00.37)

Sajak-Sajak Protes

/1/
Aku pun ikut menulis puisi
Berupa sajak-sajak protes dari hati
Yang menggugat majikan-majikan Arab Saudi
Yang hidup atau mati
Setelah menganiaya TKI

/2/
Yang membunuh dihukum mati
Yang dipaksa membunuh dihukum mati
Yang dinodai kesucian diri juga dihukum mati
: keadilan adalah mati?

/3/
Maaf,
Diksi dalam puisiku ini sangat sederhana
tanpa kupilih atau kupilah
Tetapi ia tak bisa dihukum mati
dan semoga saja pesannya mengena di hati.

(STAR 395. Yıldırım Evi, 12102011, 19.41)

Ranah yang Basah

: my future princess

Ada kamu
yang mendesau bersama angin sore ini,
lalu berlalu
tanpa ada jejak tertinggal di ranah kami.

(STAR 394. METU, 11102011, 17.46)

Kedatangan yang Sederhana

: Ran Jr

Kau datang begitu saja
Ketika angin merontokkan dedaunan
Tanpa membedakan warna

(STAR 393. Bus 427, 10102011, 21.02)

Musim Gugur (3)

Dedaunan berguguran di jalan
Terlindas keramaian
Yang menggigilkan kesenyapan

(STAR 393. Bus 427, 10102011, 20.50)

Musim Gugur (2)

Di kejauhan
angin merendah pada dedaunan
lalu berumah di dahan:
“Hanya sebuah persinggahan
yang meneduhkan pandangan.”

(STAR 391. Menekşe Evi, 08102011, 15.06)

Sebuah Pesan yang Bercahaya

pagi ini,
aku adalah pucuk daun cemara
yang menerima cahaya pertama
berupa pesan singkat berisi kata-kata hangat darimu, SeuLanga.

(STAR 386. Bus 132, 04102011, 16.15)