Sebuah Rupa Berbentuk Kerinduan

: my future princess

seperti apakah rupa kerinduan itu
seteduh wajahmu kah?
sebening telaga matamu kah?
sedalam tatapanmu kah?

lekat-lekat kupandangi jarak
yang diam-diam memanjang dan bergerak
menjauhi dari dekat

di mana letak permulaan
yang akan menjerat kita dalam kedekatan
tak terpisahkan,

yang akan mendekatkan jarak
dengan sebuah kerinduan.

(STAR 507. Perçin Evi, 30032012, 23.22)

Advertisements

Nyala Abadi

: Ran Jr

warna langit padu
dengan wajah ceriamu
ketika sajak sederhanaku menjelma matahari
di kolong langit hatimu

cerahkan pudar
terangkan kelam
sewaktu aku berbaring dalam ketiadaan
sedangkan kau sendiri mengutuk keadaan

kau tahu
matahari juga akan diredupkan cahayanya
tetapi jangan biarkan nyalanya sirna
di hatimu

*kau abadi dalam sajakku, zutto…….

(STAR 506. Bus 427, 26032012, 12.08)

Rahasia Kata

sebaris kata:
berbaris rapi di hadapan mata,
menyuguhkan makna
yang katanya
menyembunyikan rahasia
tentang kita.

(STAR 505. Perçin Evi, 24032012, 16.38)

Suatu Sore di Puncak Uludağ

sore telah tiba
di puncak Uludağ

lihatlah
kemilau dedauanan pohon cemara
yang telah dirias-Nya
dengan cahaya senja

indah dan menakjubkan.

(STAR 504. Bursa, 18032012, 17.51)

Ziarah (1)

: Hz. Üftade (Mehmed Muhyiddin)

kami berziarah
dengan bacaan al-Fatihah
“semoga ruhmu tenang di sisi Allah”

(STAR 503. Bursa, 18032012, 11.03)

Kembalilah

katakan
adakah yang menyembunyikan
kehilangan
sewaktu jejak-jejakmu masih membekas
di jalan kenangan itu

katakan
maukah kamu menyusuri kembali
ke arah ini
demi beberapa potong kenangan yang tercecer
sewaktu kamu tergesa-gesa pergi
dan bersembunyi

katakan
maukah kamu kembali?

(STAR 501. Bursa, 18032012, 09.45)

Berkaca pada Kerinduan

: Ran Jr

pagi ini
aku berkaca pada kerinduan
yang tiba-tiba memantulkan bayanganmu

tersenyumlah
jangan biarkan wajahmu retak
di kaca yang berbingkai persahabatan itu

(STAR 500. Bursa, 18032012, 20.55)

Kedatangan dan Penyambutan

cahaya pagi melumuri pegunungan
di kejauhan
yang menyaksikan perubahan zaman

***

di lembah maupun
di sudut-sudut kota
ada mesjid yang memancarkan cahaya
dari hati para hamba
yang merindukan-Nya

***

Oh Bursa
angin dari gunung Uludağ
menyambut kedatanganku
dengan semilir dinginnya

(STAR 499. Bursa, 18032012, 20.03)

Gerimis Pagi Ini

gerimis pagi ini
adalah rintik-rintik kesedihan
yang saling berjatuhan
ke tanah kota ini

***

sepasang langkah
kepunyaan-Nya
yang dititipkan padaku
sedang berjalan ke arahmu

***

udara dingin berhembus perlahan
mengusap luka-luka yang membeku
sepanjang perjalanan pagi ini

(STAR 498. Gül Evi, 14032012, 21.07)

Cinta (1)

“Mungkin cinta tak bisa diungkapkan sepenuhnya dengan kata, tetapi cinta bisa bicara secara menyeluruh dalam perbuatan”.

Kata-kata sederhana di atas adalah status facebook saya pada tanggal 4 Maret tahun ini. It was a completely random thought. Setelah saya hayati dalam-dalam (tetapi tidak sampai tenggelam dalam keraguan), ternyata makna dari status itu dalam juga.

Banyak orang (mungkin termasuk saya dan kamu, baca: kita) terlalu banyak mengungkapkan rasa cintanya melalui kata-kata. Alhasil, kita sering lupa membuktikan kekuatan cinta tersebut dalam perbuatan. Sebenarnya cinta lebih mudah berbicara lewat tindakan atau sikap yang kita tunjukkan kepada orang-orang tercinta.

Sebagai contoh, daripada mengumbar-umbarkan AKU CINTA KAMU alias I LOVE YOU ataupun CINTAKU SELUAS SAMUDRA, lebih baik kita bersikap: memahami dan sebenar-benarnya mengerti tentang segala kekurangan orang yang kita cintai itu.

“Lha? Kok kekurangan? Kenapa tidak kelebihan?”, mungkin sebagian dari kita menemukan pertanyaan tersebut di benaknya. Jawabannya sangat sederhana: cinta itu dapat mengubah kekurangan menjadi kelebihan di matanya, sehingga baik dalam kata maupun perbuatan, ia akan sungguh-sungguh mencintainya dengan sesempurna mungkin.

Jadi, cinta itu bukan hanya sekedar pamer kata. Cinta itu adalah perbuatan memahami dan mengubah kekurangan menjadi kelebihan.

Cintailah sesuatu yang baik di mata-Nya, carilah keridhaan-Nya dalam cinta apapun itu.

Salam Cinta,
(Ankara, 25032012, 15.56)

Dear Ibunda (3)

Assalamu’alaikum,
Semoga Allah SWT selalu mencurahkan cinta-Nya kepada kita.

Dear Ibunda,
Langit di kota ini sedang cerah. Awan berarakan dengan bebas di kanvas biru langit. Ia mengingatkan Ananda pada sebuah siang beberapa tahun silam.

Sepulang dari sekolah, kita duduk menunggu Ayahanda yang setia menjemput keluarganya. Ibunda membiarkan Ananda bermain bebas di halaman sekolah yang telah kosong. Sepi karena teman-teman telah pulang. Kita selalu menjadi yang terakhir pulang atau “juru kunci”.

Siang di hari-hari itu sangat cerah. Ananda baru merasakannya sekarang. Meskipun lelah menunggu ataupun letih duduk di kantor guru, ternyata ada sebuah kehangatan yang teduh di sana. Berada di sisimu di siang itu adalah kecerahan hariku.

Ibunda, maafkan Ananda yang belum bisa mencerahkan hari-hari itu. Selalu saja ada awan mendung yang Ananda halau ke langit hatimu. Ananda akan berusaha menjadi matahari bagimu. Matahari yang akan menyinari dan mencerahkan hari-harimu.

[Ankara, 24 Maret 2012]

Changed

Adakah yang lebih menakutkan dari sebuah perubahan ketika ia mengubah diri tanpa kita sadari?

This is a nightmare. Tiba-tiba aku bangun dari sebuah mimpi yang menakutkan. Ini tidak seperti biasanya. Mimpi buruk ini telah menyatu dalam kenyataan.

Aku tidak bisa lari darinya. Lebih tepatnya tidak bisa lagi. Kakiku kaku. Harapanku lumpuh. Kata-kataku juga rapuh.

I don’t want a changed. Setidaknya untuk hal ini. Aku ingin seperti yang dulu. Yang tulus memaknai sebuah persahabatan.

Tetapi mimpi buruk itu telah menjelma kenyataan ketika aku terlihat berbeda di depan cerminnya seorang sahabat. Aku terlihat sebagai orang yang berbeda di depannya.

Adakah yang lebih menakutkan dari ini? Seseorang berubah tanpa ia sadari dan ia bingung, sangat kebingungan sampai-sampai ia tidak mengerti kenapa ia berubah. Padahal ia selalu memberi yang terbaik dan meng-treasure-kan sahabatnya.

Kini, aku sedang mengusir mimpi buruk itu.

Dimanakah aku sekarang? My only wish is ”Aku ingin terus berada di sisimu sebagai sahabat yang kau kenal, zutto”.

(CaRing 4.  Perçin Evi, 13032012, 14.22)

Rindu Pertapa

Karena rindu, lelaki itu mendekap kesunyian. Menyendiri di dalam gua kenikmatan.

(Gerimis 7. Çubuk, 09032012, 21.51)

Jeritan Hati

Derit pintu itu serupa jerit aku. Kau melangkah pergi dan lupa mengunci pintu hatiku. Ia selalu terbuka dan tertutup silih berganti: menantimu kembali.

(Gerimis 6. Perçin Evi, 04032012, 19.57)

Musim Dingin Tahun Ini (14)

dari luar jendela

kau enggan mengetuk kaca

tak melirik ke dalam juga

 

hanya aku yang memandangimu

lekat-lekat

tanpa takut bahwa kau akan selalu jatuh

 

***

 

melihatmu anggun,

berdansa sebelum jatuh

 

***

 

dari jendela kaca,

menatapmu indah

di dedaunan yang kau singgah

 

(STAR 496.Perçin Evi, 03032012, 14.37)